Senin, 20 Oktober 2014

RAHASIA DI BALIK PELARIAN EDI SAMPAK

PERAMPOK PALING SADIS
BURONAN LEGENDARIS
Begitulah sebutan buat Edi sampak yang sering juga disebut perampok halimun(menghilang)..

Di artikel ini saya akan membahas rahasia
Kaburnya edi sampak yang di tuturkan
Langsung dari sang beliau...
EDI SAMPAK 20 Agustus 1979, menjelang Lebaran, warga kota cianjur di kejutkan dengan peristiwa perampokan berdarah dingin. Empat orang tewas di tempat, satu meninggal di rumah sakit. Empat lainnya luka-luka.
Korban tewas adalah Sersan Sutardjat, Daeng Rusyana, Djudjun, Sugandi, dan seorang lelaki yang tak diketahui namanya. Mereka diberondong tanpa ampun. Hari nahas itu, Sersan Mayor Sutardjat, yang merupakan juru bayar Kodim 0608 Cianjur, bertugas mengambil gaji pegawai di Bank Karya Pembangunan, Sukabumi, Jawa Barat. Ia ditemani Enung Sumpena dan dua pegawai sipil, Daeng Rusyana dan Djudjun.
Setelah selesai mengambil uang gaji itu, kemudian mereka ke kantor Kodim Sukabumi, untuk memasukan uang gaji ke amplop – amplop yang telah disediakan. Saat itu, muncul Sersan Mayor Eddy Sampak. Eddy minta gajinya diberikan duluan. Katanya untuk beli bensin. Karena tak mau melanggar prosedur, Sutardjat hanya meminjamkan uang alakadar miliknya.
Siang harinya rombongan Sutardjat pulang ke Cianjur menumpang minibus Colt bernomor polisi D-5791-G, yang dikemudikan Iding dengan kenek Sugandi. Eddy bersama temannya bernama Odjeng ikut menumpang. Mereka duduk-duduk di bangku belakang.
Masuk Cianjur, di daerah Gekbrong, Eddy minta sopir belok ke perkebunan teh. Eddy beralasan hendak mengambil kambing. Setiap menjelang Lebaran, lelaki ini memang kerap menjual daging kambing kepada rekannya. Karena itu, sopir manut saja. Penumpang lain juga tak keberatan.
Melewati kampung kecil nan senyap, Eddy minta sopir menepikan kendaraan. Waktu menunjukkan pukul 13.30. Saat itulah Eddy mengeluarkan senjata Carl Gustaf dari tas jinjingnya. Senjata itu berikut amunisinya diketahui hilang dari gudang, beberapa bulan sebelumnya. Tanpa banyak bicara, Eddy langsung mengarahkan moncong senjata, kearah teman – temannya, yang kemudian memuntahkan puluhan butir timah panas, secara membabi buta. Setelah itu, Eddy kemudian membakar minibus berisi penumpang yang terluka tembak. Eddy dan Odjeng kabur menggondol duit gaji pegawai Rp 21,3 juta.

PERBURUAN EDDY SAMPAK
Tanpa disadari oleh Eddy dan kawannya, Enung Sumpena salah seorang korban, dapat menyelamatkan diri dari kobaran api. Enung Sumpena pada saat itu duduk di dekat pintu mobil. Enung tertembak di bahu kanannya.
Enung Sumpena, yang melarikan diri terhuyung-huyung, ditolong dua pemuda dusun yang membawanya kepada kepala desa setempat. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit di Sukabumi. Nyawanya terselamatkan. Enunglah yang melapor perihal ulah Eddy Sampak.
Perburuan besar-besaran melibatkan petugas gabungan TNI-Polri pun dikerahkan. Perburuan tersebut membawa hasil. Sepekan berselang, 28 Agustus 1979, Eddy ditangkap di Desa Cigintung. Kaki dan pantatnya luka memborok akibat baku tembak dengan petugas keamanan beberapa hari sebelumnya di Pasirdatarwatu.
Odjeng tertangkap pada 24 Agustus di Desa Nagrak. Dari tangan Odjeng, petugas menyita duit Rp 734.000. Petugas menemukan lagi Rp 1,3 juta yang ditanam di sawah. Sedangkan dari Eddy disita Rp 3,75 juta. Total uang yang disita, termasuk dari kerabat Eddy, berjumlah Rp 20 juta lebih.
Dari pemeriksaan petugas terungkap, Eddy memang berencana membunuh Sutardjat. Bahkan Eddy mengaku terus terang hendak pula menghabisi Komandan Kodim Cianjur Letnan Kolonel Kahya dan Bupati Cianjur Adjat Sudradjat.
Dendam kesumat Eddy Maulana Sampak tersebut muncul, setelah dirinya gagal menjadi kepala Desa Nagrag. Eddy, habis – habisan untuk menjadi kepala desa pada saat itu. Ia telah menghabiskan Rp 3 juta hasil jual sawah dan utangnya.
Eddy merasa komandannya menghalangi langkahnya menjadi kepala desa. Apalagi, sang komandan menawarkan posisi kepala desa yang kosong kepada Sutardjat. Kendati Sutardjat menolak tawaran itu, tetap saja Eddy mendendam
Lelaki yang tak disukai penduduk lantaran galak itu juga merasa pihak pemerintah mengganjalnya dengan meniupkan isu bahwa dia pernah merampok. Maka, ia bertekad akan melampiaskan dendam sekaligus merampok untuk menutupi utang-utangnya.
EDDY KABUR
Pada 13 Juni 1981, pengadilan Militer Priangan-Bogor memvonis Eddy dengan hukuman mati, yang dikuatkan keputusan Mahkamah Agung. Eddy mengajukan grasi, tapi ditolak. Pada 24 Desember 1984, ia nekat melarikan diri dari Rumah Tahanan Militer Inrehab Cimahi.
Kaburnya Eddy bikin gempar lagi. Banyak pihak waswas, terutama korban selamat, Enung Sampena. Enung merasa ketakuatan serta stress, terlebih ia yang melaporkan Eddy Sampak. Eddy, bagai hilang ditelan bumi. Selama bertahun-tahun petugas tak berhasil mengendus jejak Eddy.

EDDY KEMBALI DI TANGKAP
Buron 22 tahun, terpidana mati Eddy Maulana Sampak, ”legenda hidup” perampok dan pembunuh berdarah dingin dari Cianjur, Jawa Barat, dibekuk di rumah bini muda. Eddy, 67 tahun, berhasil kabur dari Inrehab Cimahi (sekarang Masmil) pada 1984. Ke mana saja selama ini? Penuturan Eddy kepada petugas, dari Cimahi ia langsung ke Serang, Banten. Eddy kemudian mengantongi kartu tanda penduduk dengan nama Shiddiq. Dia kemudian berkeliling ke sejumlah kota, seperti Palembang, Lampung, Jambi, dan Bengkulu. Eddy menggeluti banyak profesi. Dari pedagang hingga menjadi ustad. Lelaki asal Banten ini rajin mengirim wesel pos kepada istri ketiganya, Saeti, yang tinggal di rumah sederhana di Jayanti, Tangerang. Merasa aman, Eddy kemudian menetap di kota itu. Warga pun tahu siapa sebetulnya suami Saeti ini. Kepada warga, Eddy bilang kasusnya sudah selesai. Warga percaya. Namun Eddy akhirnya, kepleset karena nekad menjadi pembina dan penasihat di koran dan tabloid. Nama ini tercantum dalam masthead di tabloid berita Alternatif dan koran Surya Pos Banten. Agaknya nama terang itulah yang tercium petugas keamanan tapi dalam penuturan edi itu sengaja dia lakukan karna dia sudh bosan dari pelarian. Eddy akhirnya tertangkap PROSES penangkapannya cukup mulus. Jauh pula dari kesan hiruk-pikuk lazimnya mencokok penjahat berbahaya. Tanpa todongan pistol, apalagi rentetan tembakan.
Rumah itu terletak di kawasan Jayanti, Tangerang, Banten. Berlagak sebagai tamu, petugas tadi menyapa ramah. ”Saya dari Garut,” ucapnya, sembari menyalami tuan rumah, seorang lelaki gaek.
Selagi tuan rumah keheranan, si tamu memborgolnya cekatan. ”Bapak ikut kami,” katanya. Tak lupa si tamu juga berpamitan pada nyonya rumah. Mereka kemudian meluncur menggunakan mobil Toyota Kijang yang diparkir dekat situ.
Sang kakekpun  pasrah karna beliau sudah capek  
Dari pelarian. Berakhir sudah pelariannya selama 22 tahun.

RAHASIA PELARIAN EDI SANG KAKEK
Selama 22 tahun pula iya mengamalkan yasin Sebanyak 83ayat yang harus di wajibkan hapal luar kepala setiap malam jum'at iya harus membaca 83 ayat yasin dan di jum'at2 dia mewiridka 2 ayat inti tanpa tidur sehari semalam, dalam yasin terdapat dua ayat  Inti dari amalan yang dia turunkan kepada saya Dimana ayat itu harus diwiridkan 100x
setiap hari,Begitulah penuturan edi kepada saya
Yang dimana orang sering bilang lw edi memiliki ilmu menghilang atw sring di sebut halimun..
Saya terima dari apa yang di turunkan edi sang kakek kepada saya tapi bukan berarti saya
Harus mengamalkannya bagi saya ini hanyala
Kisah nyata sang kakek yang perlu di ketaui
Bukan berarti harus di pelajari
beliau skrng sudah sadar setiap hari kerjanya
Hnya membaca kitab alquran n sholat,,
Satu malam beliau membaca alquran  bisa menghabiskan satu jus
Wwwoooww pantastis bukan...
Saya sangat sangat salut kepada sang kakek
Saya tidak perna melihat apa yang perna  beliau dlu perbuat,,yang saya lihat skrng keteguhan hati sang kakek buat betobat..
SALUT KEPADA BELIAU SANG KAKEK EDI SAMPAK

"Nara sumber dari EDI SAMPAK"

1 komentar: